Rabu, 04 Maret 2009

The design and fabrication of a Spiky Pod


Kali ini saya akan mencoba mengulas sebuah sub bab dalam buku berjudul SPACECRAFT: DEVELOPMENTS IN ARCHITECTURAL COMPUTING
(EDITED BY: DAVID LITTLEFIELD).

Dalam bab berjudul TECHNOLOGY AND FABRICATION, terdapat sebuah sub bab yang membahas tentang proses desain dan pembuatan Spiky Pod, interior dalam Blizard Building, sebuah bangunan di Queen Mary College, London. Fasilitas ini dirancang oleh tim SMC Alsop and Amec Architects bekerjasama dengan konsultan dari Architen Landrell.

Bagian interior bangunan yang disebut Spiky Pod tersebut bentuknya sangat tidak konvensional, menyerupai sebuah “makhluk laut raksasa yang memiliki 12 buah duri runcing hitam”. Dalam Spiky Pod terdapat ruang-ruang, yaitu :
 ‘Centre of Cell’ yaitu ruang pameran yang ditujukan untuk para siswa sekolah setempat.
 ‘Mushroom’ yaitu lantai dasar untuk ruang pertemuan.
 ‘Cloud’ yaitu ruang pertemuan berkapasitas 10 orang.
 ‘Spiky’ yaitu ruang utama berupa ruang seminar berkapasitas 40 orang.

Tahap Perancangan
Struktur dan konstruksi dari Spiky Pod ini sangatlah rumit sehingga tak heran jika perancangannya membutuhkan berbagai sofware modeling 3D agar hasilnya benar-benar akurat.
Pada tahap awal perancangan, tim membuat sebuah model CAD, namun ternyata CAD model tersebut tidak fleksibel dan belum mampu mewakili struktur yang sebenarnya. Maka, sebuah model asli menggunakan bahan nilon pun dibuat untuk pemodelan tersebut. Setelah dirasa cukup baik, maka dibuatlah kembali sebuah modeling CAD berdasarkan model asli tersebut.

Mereka juga bekerjasama dengan konsultan dari Architen Landrell yang mengembangkan sofware ‘InTENS’, sebuah software yang digunakan untuk menghitung pelenturan dan penegangan bahan.

Analisis Struktur
Semua perhitungan dan analisis struktur, termasuk detail panel struktur, kabel penopang, dan ornamen, didapat dari hasil perhitungan menggunakan bantuan software komputer. Selanjutnya dibuatlah model asli berskala kecil untuk memastikan bahwa semua komponen dan struktur telah tepat.

Pemasangan
Pada tahap akhir, dibuatlah material yang akan digunakan yaitu dari bahan PVC berlapis polyester. Material tersebut dipilih karena kekuatan dan keelastisannya yang bagus, agar dapat menegang dengan baik namun tidak merusak struktur bangunan tempat Spiky Pod ini dipasang. Pada proses pemasangan ini dibutuhkan ketelitian yang tinggi agar sesuai dengan perhitungan yang telah dibuat.


Dari ulasan di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa dunia dijital memberikan banyak kontribusi dan manfaat dalam berbagai bidang, dalam hal ini arsitektur. Dengan menggunakan berbagai software, karya arsitektur yang tampaknya mustahil untuk dibangun pada akhirnya dapat direalisasikan. Inilah contoh nyata dari Dijital Architecture yang tak diragukan lagi dapat membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan efisien.




http://www.designbuild-network.com/projects/queenmaryuni/
id.wikipedia.org/wiki/Queen_Mary,_Universitas_London - 32k
http://archrecord.construction.com/projects/BTS/archives/labs/06_queenMary/default.asp
http://www.designbuild-network.com/projects/queen_mary/
www.architen.com/projects/spiky-seminar-pod

Senin, 23 Februari 2009

Mengapa dunia dijital melanda arsitektur dan bagaimana arsitek menyikapinya

Teknologi dibuat oleh manusia untuk memudahkan kehidupannya. Dengan perkembangan teknologi, diharapkan kita dapat lebih efisien dalam melakukan suatu kegiatan. Oleh karena itu, perkembangan teknologi tidak mungkin dapat dibendung di berbagai bidang karena memang kita membutuhkannya.
Demikian juga dalam dunia arsitektur, kemajuan teknologi dalam bentuk dunia dijital semakin berkembang seiring perkembangan jaman. Ketepatan dan keefisienan-lah yang membuat dunia dijital semakin dibutuhkan dalam bidang arsitektur. Dengan menggunakan media dijital, diharapkan dapat meminimalisir human error yang seringkali terjadi jika menggunakan media manual. Bernagai keuntungan lainnya yaitu kecepatan, ketelitian, dan kemudahan membuat dunia dijital semakin dibituhkan dalam berbagai bidang, tak terkecuali bidang arsitektur.


Bagaimana seharusnya arsitek menyikapi

Perkembangan dunia dijital kini telah merambah di berbagai bidang. Sebagai calon arsitek masa depan, kita dituntut untuk dapat menguasai dunia dijital agar tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi tersebut. Semua keuntungan media dijital membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Oleh karena itu, mau tak mau arsitek harus menguasai dunia dijital untuk mencapai kemudahan dan keefisienan dalam melakukan pekerjaan.
Namun, sebagai arsitek, senjata utama tetaplah teletak pada kedua tangan kita. Kemampuan free hand merupakan skill utama yang membedakan antara arsitek satu dengan yang lainnya. Kesimpulannya, sebagi calon arsitek masa depan, kita dituntut untuk menguasai dunia dijital tanpa melupakan skill utama yang harus tetap kita miliki yang terletak pada kedua tangan kita.

Kamis, 19 Februari 2009

aha...

hehey,,,
maklum baru coba2, jadi maaf kalo tampilan masih minimalis (seperti muka saya)...